Tampilkan postingan dengan label jendela. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jendela. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 27, 2009

Tak usah panik di kala hp low-batt

Hong Kong adalah tempat yang menarik, cantik, dan bersih. Sebagai tempat yang merupakan salah satu pusat perdagangan dunia, beragam tempat berbelanja mulai dari shopping mall, toko kecil, sampai ladies market menyediakan hal yang menjanjikan. Fasilitas yang tersedia untuk menunjang kenyamanan dan kemudahan kita pun mudah didapatkan. Bukan sekadar isapan jempol belaka, hal ini benar-benar sudah kualami sendiri.

Suatu hari telepon genggam alias hp-ku tidak bisa berfungsi. Ternyata aku lupa men-charge baterainya. Masalahnya, saat itu aku sedang sangat memerlukan benda itu. Bagaimana tidak, di saat yang bersamaan aku harus menghubungi temanku yang sedang shopping di Kowloon, juga menelepon anak yang hang-out di rumah temannya, sekaligus menghubungi rumah... sementara aku sendirian dengan hp yang nyaris mati. Aduh, kenapa juga benda yang amat sangat penting artinya buatku ini malah tidak bisa diharapkan fungsinya saat kepepet begini?

Untungnya aku tidak panik dan hilang akal. Kucoba mencari counter Nokia untuk mencoba mengisi baterai. Ternyata pelayanan mengisi baterai saja tidak tersedia di sana. Aku disarankan untuk pergi ke information desk di mal tersebut. Wah, luar biasa. Di sana terdapat pelayanan untuk mengisi baterai hp yang terletak berdampingan dengan information desk. Yang lebih mengagumkan lagi, pelayanan itu gratis tanpa dikenakan biaya apa pun. Kita hanya perlu meninggalkan baterai hp, dan membawa handset kita sambil menunggu baterai selesai diisi. Sayangnya, tidak tersedia untuk semua merek hp--termasuk hp-ku ini. Aduh, sedihnya...

Tetapi Hong Kong memang tempat yang sangat nyaman untuk semua orang. Aku ditunjukkan tempat lain untuk mengisi baterai yaitu 7-eleven, sebuah minimarket kecil yang buka 24 jam. Di sana aku bisa mengisi baterai hp dengan biaya sepuluh dolar Hong Kong. Aku cukup meninggalkan baterai hp-ku untuk diisi. Sementara itu aku cuci mata keliling mal Harbour City sambil menunggu. Hati senang dan pikiran pun langsung tenang. Satu jam kemudian aku sudah bisa telepon teman, anak, dan rumah. Semua urusan beres.

Ini sekadar berbagi pengalaman saja. Semoga informasi ini bermanfaat buat Anda semua.

Eva Adamhar

Rabu, Oktober 22, 2008

Buku bulan ini: Crafting with Kids

Anak-anak suka sekali membuat kerajinan tangan--coba beri saja mereka kertas, cat, dan lem. Dijamin mereka akan sibuk sendiri selama berjam-jam, tenggelam dalam imajinasi yang tak ada habisnya, dan membuat kreasi yang bisa membuat Anda terkagum-kagum. Membuat kerajinan tangan adalah salah satu cara ampuh untuk mendorong anak mengekspresikan diri. Bagi anak, pengalaman berkreasinya pun sama pentingnya dengan hasil akhir yang didapatkan.

Crafting with Kids karya Catherine Woram ini berisi 35 ide membuat kerajinan tangan yang menyenangkan dan imajinatif untuk dikerjakan bersama buah hati Anda tercinta. Mulai dari membuat stempel dari kentang, membuat boneka dari sutil kayu, sampai topeng menyeramkan untuk Halloween ada di sini! Semua ide yang ada bisa diselesaikan dengan empat langkah mudah, dan kebanyakan menggunakan materi yang ada di seputar rumah.

Silakan intip sendiri buku ini dan nikmatilah saat-saat kreatif dan waktu berkualitas dengan sang buah hati.

Rabu, September 17, 2008

Buku bulan ini: Paula Pryke's Simple Flowers

Paula Pryke bukanlah nama yang asing lagi di kalangan bisnis bunga. Dia adalah seorang businesswoman yang sukses serta memiliki sekolah merangkai bunga terkenal di London. Melalui bukunya ini, Paula menunjukkan bahwa rangkaian bunga yang cantik dan simpel bisa dikerjakan oleh siapa saja dengan biaya yang tidak mahal. Kuncinya adalah kreativitas dan kombinasi bahan pendukung rangkaian bunga.

Buat Anda yang benar-benar 'awam' urusan merangkai bunga, buku ini bisa jadi pegangan andalan. Penuh dengan foto yang jelas dan menarik, buku setebal 144 halaman ini berisi lebih dari 200 jenis rangkaian bunga sederhana yang bisa Anda buat sendiri.

Rabu, Agustus 20, 2008

Peran strategi keluarga batih dalam pendewasaan anak

Tulisan ini merupakan materi ceramah Bapak Syamsul Bahri Tanrere dari Forum Penimarka pada ceramah psikologi yang diadakan oleh DWP KJRI Hong Kong bekerja sama dengan Fungsi Tenaga Kerja KJRI Hong Kong pada tanggal 21 Juli 2008 di Ruang Ramayana KJRI Hong Kong.

Terdapat beberapa teori tentang apa yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia, bawaan lahir ataukah lingkungan. Bagi kaum natives, bawaanlah yang menentukan perjalanan hidup manusia. Sementara kaum empiris beranggapan bahwa lingkunganlah yang membentuk kehidupan. Kaum behaviorisme yang dikenal luas dalam psikologi meyakini yang terakhir ini. Teori moderat, convergensi, memadukan kedua pandangan tersebut di atas.

Pengaruh orangtua terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak tak dapat disangkal. Karena itu faktor pola asuh orangtua dan keluarga yang ada di sekitar anak sangat penting. Kita mengenal ada tiga model pola asuh orangtua: Pertama, pola otoriter, segala sesuatu yang berkaitan dengan anak ditentukan sepenuhnya oleh orangtua. Anak sama sekali tidak terlibat pada apa yang menjadi minat dan harapannya sendiri karena orangtua telah mengambil alih seluruhnya. Ciri utamanya adalah komunikasi searah dalam bentuk instruksi. Kedua, pola demokratis, anak diajak bersama-sama dalam menentukan berbagai hal menyangkut anak. Di sini anak merasa dihargai karena diajak terlibat dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan anak sendiri. Ketiga, pola permisif, kebalikan dari otoriter. Segala sesuatu diserahkan kepada anak, orangtua tinggal mengiyakan saja apa pun yang dikehendaki oleh anak. Tampaknya ketiga pola asuh ini harus dipadukan. Dalam hal yang sifatnya prinsip, terutama hal yang menyangkut aqidah orangtua harus otoriter. Sedangkan hal-hal yang menyangkut hak-hak anak, menyangkut kehidupan masa depan, pendidikan, maka pola demokratis bisa ditempuh. Tetapi dalam hal hobi selama tidak mengganggu aktivitas ibadahnya, ditempuh pola permisif.

Orangtua adalah lingkungan sosial pertama yang ditemui oleh anak dalam dunia nyata. Apa yang dialami bersama keluarga terutama yang berulang-ulang itulah yang secara pelan-pelan diserap menjadi suatu kebiasaan sehari-hari, bagaimana cara bersikap, bertutur kata, bertingkah laku dalam berbagai kesempatan. Orangtua, terutama ibu, merupakan sekolah pertama bagi anak, banyak sikap dan tingkah laku keseharian kita mengkristal melalui imitasi dari lingkungan di mana kita hidup. Orangtua, keluarga, dan masyarakat sebagian mengajari kita sejak kecil ungkapan, sikap, dan perilaku seperti demikian. Itu sebabnya peran keluarga batih sangat penting dalam pembentukan perwatakan anak sejak ia dapat berinteraksi denan lingkungannya sampai mencapai usia dewasa. Kurt Lewin beranggapan bahwa kepribadian kita dibentuk oleh bawaan dan lingkungan (alam maupun sosial). Untuk lingkungan sosial orang tua yang pertama-tama memberikan andil, kemudian teman sebaya (peer groups) baik pada teman sepermainan di lingkungan rumah maupun teman sekolah.

Pembiasaan-pembiasaan merupakan cara untuk mengkristalisasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan. Ada tiga tahapan yang dilalui untuk menginternalisasikan nilai-nilai pada anak:

  1. Tahap compliance, yaitu tahap pembiasaan pada kebaikan, kepatuhan pada kebenaran. Kebiasaan-kebiasaan baik dalam tindakan dan ucapan semisal terima kasih, maaf, tolong, silakan, dan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran harus muncul bahkan bermula dari keluarga di rumah serta guru di sekolah. Di sini juga harus berlaku ganjaran dan hukuman (reward & punishment, targīb & tarhīb).
  2. Tahap identifikasi, yaitu anak mulai mengidentifikasi dirinya dengan kebaikan serta pelaku kebaikan. Misalnya, ketika anak melihat sesuatu yang kotor lalu mengatakan, “ih… jorok.” Terdapat rasa senang terhadap sesuatu yang telah dibiasakan padanya dan berusaha untuk menerima hal tersebut sebagai sesuatu keniscayaan.
  3. Tahap kristalisasi nilai-nilai, yaitu tahap akhir yang dituju di dalam pembentukan karakter, yaitu ketika anak sudah menjadikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran itu sebagai bagian dalam kehidupannya.

Pembiasaan-pembiasaan itu harus dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan anak. Misalnya, mencontohkan minum (aqua gelas) tanpa menyisakan isinya untuk tidak mubazir (QS. 17:27), mengetuk pintu kamar anak dan mengucapkan salam sebelum masuk (QS. 24:58), tidak masuk ke rumah orang tanpa izin/salam (QS. 24/27), altruisik atau ringan tangan dan terbiasa membantu sesama (QS. 5:2), bergeser ketika ada orang memerlukan tempat duduk atau menepi ke jalur kiri kalau ada orang yang meminta menyalip kendaraan kita (QS. 58:11), menghindari berbagai aktivitas yang tak bermanfaat (QS. 23:3), dst.

Peran strategis orangtua dalam mengantarkan anak menuju ke kedewasaannya dikaitkan dengan karakter bangsa antara lain:

1. Sebagai fasilitator

Manusia adalah makhluk yang diciptakan sangat lemah jika dibanding dengan makhluk-makhluk lain. Oleh karena itu, orangtua harus aktif memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan anak, memberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal dalam suasana yang menyenangkan, sehingga ia mampu mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimilikinya agar berguna untuk diri dan lingkungan sosialnya. Pembangunan sumber daya manusia dimulai dari pemahaman dan kemauan orang dewasa, terutama orangtua, untuk memfasilitasi agar potensi-potensi anak manusia berkembang secara wajar. Dalam hal ini, perhatian orangtua dalam memenuhi kebutuhan fisik dan mental anak sangat penting secara berimbang.

2. Sebagai edukator

Tidak diragukan lagi peran strategis orangtua dalam mendidik dan membentuk watak anak-anaknya. Menanamkan aqidah dan akhlak sejak dini, membekali keterampilan hidup (life skills), hingga ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat diberikan secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Sistem pendidikan klasikal di sekolah-sekolah formal hanya memberikan pelayanan standar (rata-rata) bagi semua anak, padahal kita tahu semua anak bersifat unique. Unik bermakna tidak ada dua individu yang sama persis, memiliki kecerdasan berbeda-beda. Orangtua hendaknya mencermati potensi kecerdasan yang dimiliki putra-putranya agar anak dapat mewujudkan potensi-potensi yang dimilikinya secara optimal.

3. Sebagai motivator

Motivasi umumnya diklasifikasi menjadi intrinsic motivation dan extrinsic motivation. Orangtua diharapkan menumbuhkan motivasi intrinsik yang muncul dari dalam diri anak untuk mau berprestasi, beribadah, maju bersaing secara sehat, dan hal-hal baik lainnya. Untuk merangsang hal tersebut orangtua hendaknya memberi apresiasi setiap kali anak melakukan suatu kebaikan yang diharapkan. Apresiasi ini menjadi penguat (reinforcement) terhadap tindakan kebaikan berikutnya. Thorndike dengan ‘law of effect’-nya meyakini bahwa sesuatu yang menyenangkan cenderung diulang pada kesempatan lain. Memuji anak ketika melakukan sesuatu kebaikan lebih berharga daripada menghukum karena suatu kesalahan. Jika orangtua dan keluarga batih menunjukkan prestasi dalam kehidupannya dari kerja keras yang dilakukan dapat menjadi motivasi intrinsik bagi anak.

4. Sebagai konselor/problem solver

Perjalanan hidup manusia bergerak dinamis mengalami tahapan-tahapan dari bayi, anak, hingga lanjut usia atau meninggal dunia. Dalam fase perkembangan itu manusia berinteraksi dengan lingkungan alam dan sosial yang boleh jadi mengalami berbagai masalah. Masalah itu ada yang bisa diatasi dan ada pula yang sulit, memerlukan konseling dari orang lain yang lebih tahu dan lebih pengalaman. Di masa-masa kritis perkembangan kehidupan diperlukan adanya penasihat yang bijak agar semua masalah yang dihadapi anak bisa dilalui tanpa gejolak yang berarti dan berkepanjangan. Sebagai konselor/problem solver bukan berarti orangtua mengambil alih dan menyelesaikan semua persoalan anak. Akan tetapi, cukup memberi berbagai alternatif pemecahan masalah dengan kemungkinan konsekuensinya lalu membiarkan mereka memilih alternatif yang paling baik menurut mereka.

5. Sebagai teladan/model

Tidak dapat disangkal bahwa anak pada awal-awal pertumbuhannya akan meniru apa saja yang diperoleh dari lingkungannya. Anak-anak di Perancis mahir berbahasa Perancis atau di Ciamis berbahasa Sunda karena imitasi. Bahkan ibadah yang dilakukan pada awalnya karena imitasi. Memang diakui bahwa manusia membawa insting sejak lahir tetapi kemudian diperkaya melalui interaksi dengan lingkungan. Dari kecil anak bisa menangis dan tertawa, tanpa kursus terlebih dahulu, tapi bagaimana dan kapan kita harus menangis dan tertawa ternyata kita peroleh dari lingkungan (pendidikan maupun pengalaman). Bersikap, bertutur kata, bertingkah laku di hadapan anak menjadi media pembelajaran yang efektif bagi anak. Jika yang tampil dalam pergaulan sehari-hari tutur kata yang lembut maka anak akan menirunya seperti itu ketika bertutur dengan orang lain. Sebagai model orangtua berupaya untuk menunjukkan model sikap, tutur kata, dan tingkah laku yang tepat dalam berbagai situasi kehidupan.

6. Sebagai teman

Anak adalah teman bermain, bercengkerama, bercanda, main tebak-tebakan, bertanding walau kadang-kadang orangtua harus sengaja bermain kalah dengan anaknya. Sebagai teman harus setia saling mendengarkan cerita, perasaan, pendapat, apa pun isinya. Mendampingi anak ketika dalam suasana hati mereka yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Orangtua harus bisa menempatkan diri sebagai teman dalam obrolan berbagai tema seputar dunia anak. Khazanah anak dimunculkan dalam ungkapan atau cerita sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa yang dimiliki oleh anak-anak. Orangtua berfungsi sebagai teman juga menjadi wahana penting untuk melatih keterbukaan anak terhadap apa saja yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan.

7. Sebagai negosiator

Orangtua kadang-kadang harus bertindak sebagai negosiator ulung dalam melakukan tawar-menawar dengan anak, terutama anak-anak yang sudah beranjak remaja. Pola asuh otoriter hanya akan menimbulkan berbagai ketegangan dalam diri anak, bahkan dapat menimbulkan pembusukan potensi-potensi yang dimilikinya. Anak sebagai anak kadang kala juga memiliki keinginan-keinginan yang menurut orangtua kurang pantas. Banyak sekali aktivitas anak yang memerlukan negosiasi orangtua. Pukul berapa sudah harus di rumah setelah jalan-jalan dengan teman di hari libur adalah contoh kecil wilayah yang bisa dinegosiasikan.

Dalam kehidupan keluarga kita menemukan pola-pola umum yang dilakukan orangtua dalam berinteraksi dengan anak, baik yang positif maupun yang negatif. Yang positif tentu banyak sekali, bukan pada tempatnya untuk menguraikannya di sini. Akan tetapi beberapa di antaranya yang dapat menimbulkan pengaruh negatif bagi pembentukan karakter bangsa yang negatif, untuk dihindari dalam interaksi dengan anak, antara lain:

1. Pendekatan punishment

Dalam keseharian pendekatan hubungan yang dilakukan orangtua di rumah, bos di tempat kerja, bahkan guru di sekolah pada umumnya adalah mendahulukan punishment daripada reward. Cermatilah misalnya guru ketika masuk kelas, yang pertama ditanyakan adalah siap yang tidak hadir, yang tidak mengerjakan tugas, dan sejenisnya. Pernahkah guru, misalnya, memberi apresiasi kepada muridnya yang datang lebih awal sebelum bel berbunyi? Di rumah sama saja. Orangtua lebih banyak menghukum, mencela, mengomel, daripada memberi pujian, ganjaran positif, memberi semangat. Sebuah penelitian Jack Canfield tentang frekuensi orangtua mencela dan berkomentar negatif kepada anaknya daripada memberi pujian dan berkomentar positif. Ia menemukan rata-rata 75 kali (positif) dan 460 kali (negatif) per hari. Dalam teks keagamaan sebenarnya indikasi pendekatan targīb (reward) didahulukan dibanding dengan pendekatan tarhīb (punishment). Ditemukan banyak teks hadis yang mendukung hal ini, misalnya perintah melakukan tabsyir dan larangan menakut-nakuti sehingga orang lari (lā tunaffirū), atau bahwa rahmat Allah selalu mendahului amarahnya (inna rahmatī sabaqat gadabī) niat dan berbuat baik mendapat indeks pahala lebih besar daripada indeks dosa berniat dan berbuat buruk. (Baca juga: QS. 7:156, 40:7.)

2. Kelangkaan komunikasi dan silaturahim

Banyak anak yang dicap bandel oleh orangtuanya padahal sejatinya hanya ingin perhatian. Salah satu kebutuhan manusia ingin afiliasi, perhatian, disayangi dan menyayangi, ditanggapi, dihargai, dan perasaan itu tumbuh dari sejak kecil. Banyak orangtua ketika anaknya sedang asyik bermain dibiarkan dalam kesendirian tanpa sapaan (silaturahim), tapi ketika anak memecahkan keramik, berteriak-teriak, atau mengganggu adiknya barulah ibu bangkit dan nyerocos ngomong kepada anaknya. Si anak kemudian mengetahui kalau dia ‘bandel’ ia diperhatikan oleh ibunya. Alangkah baiknya, jika dalam berbagai kondisi orangtua senantiasa berkomunikasi dengan anaknya. Bahkan terhadap bayi sekalipun orangtua dianjurkan untuk terus berkomunikasi walaupun mungkin tanpa tanggapan verbal kecuali tatapan mata. Bermain mobil-mobilan bersama anak, apalagi membangkitkan kreativitas melalui perakitan mobil-mobilan dari barang-barang bekas, sangat disenangi anak-anak dan berpengaruh positif pada perkembangan kreativitas mereka.

3. Terbiasa menghitung untuk sebuah instruksi

Pernahkan Anda mendengar seorang ibu berseru kepada anaknya: “Iiih… Berhenti! Ibu hitung sampai sepuluh. Awas ya! 1… 2… 3…” dst. Perintah atau larangan dengan cara seperti ini akan membuat anak tidak tanggap, tidak reaktif (dalam arti positif) karena terbiasa menunggu sampai hitungan mendekati sepuluh, belum lagi jika ada sembilan seperempat, sembilan setengah…, dst. Oleh karena itu, kalaupun harus menggunakan hitungan sebaiknya sampai hitungan tiga saja.

4. Membungkam keingintahuan (curiosity) dan kreativitas

Anak-anak adalah makhluk yang memiliki keingintahuan yang tinggi. Hanya sayang sering kali keingintahuan ini dibungkam dan dikerdilkan oleh keluarga batih di rumah. Anak disuruh duduk manis dan diam tanpa boleh banyak bertanya tentang hal-hal yang menarik perhatian di sekelilingnya, apalagi yang dianggap tabu oleh orangtua. Keingintahuan anak oleh banyak orangtua, terutama di pedesaan, dijawab dengan telunjuk di depan bibir, pelototan mata, bentakan, bahkan cacian dan cubitan! Kadang-kadang hanya karena faktor malu kepada orang lain karena memiliki anak yang banyak tanya. Padahal kita tahu bahwa bertanya itu adalah sumber pengetahuan. Sementara itu, faktor yang menjadi faktor keberhasilan pendidikan anak di Indonesia adalah kepatuhan. Berdasarkan penelitian Utami Munandar masyarakat Indonesia sangat mementingkan kepatuhan, bahkan terhadap sesuatu yang belum diketahui benar atau salah. Kepatuhan tentu sangat baik jika hal itu berkenaan dengan nilai-nilai kebenaran ajaran agama yang memang menghendaki sam’an wa thaatan. Tetapi menyangkut budaya manusia, kreativitas, dan berpikir divergen diperlukan untuk menambah khazanah, nilai, dan keanekaan cara dalam memperbaiki dan menyejahterakan kehidupan umat manusia.

5. Kurang perhatian dan penghargaan

Masyarakat kita di Indonesia umumnya tidak terbiasa menyampaikan terima kasih kepada anak yang melalukan suatu kebaikan bahkan jika telah membantu orang dewasa. Padahal anak adalah manusia yang sangat butuh perhatian dan penghargaan. Apresiasi yang diberikan ketika anak melakukan suatu kebaikan akan menjadi perangsang untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan berikutnya. Ada empat kata ajaib untuk penghargaan yang terus harus bersama dengan kita dalam berkomunikasi: terima kasih, maaf, tolong, dan silakan. Tetapi sayang, keempat kata ini mumnya tidak muncul dalam komunikasi keluarga batih dengan anak yang ada di lingkungannya, sehingga pekerjaan atau kebaikan yang dilakukan anak seolah-olah hanya tugas yang membebankan tanpa apresiasi dari orang yang menuntutnya melakukan sesuatu.

Hal lain yang sering terjadi adalah tak adanya apresiasi yang mampu memotivasi anak ketika mereka kurang menunjukkan prestasi dalam pelajaran sekolah. Begitu anak dapat nilai merah, orang tua langsung mencak-mencak memarahi anak, bahkan kadang-kadang denga corporal punishment (hukuman fisik) . Situasi seperti ini membuat anak tidak jujur. Begitu dia dapat merah berikutnya akan dia sembunyikan atau buang ke tong sampah, hanya nilai bagus yang ditunjukkan. Nilai merah tidak harus membuat orangtua kebakaran jenggot, tetapi dengan perhatian dan kesungguhan untuk membantu prestasi lebih baik. Begitu ada kemajuan (meskipun masih merah dari 4 ke 5, misalnya, maka apresiasi pun harus ia dapatkan.

Buku bulan ini: Everything you never wanted your kids to know about sex (but were afraid they'd ask)

Kalau anak sudah bertanya atau perlu diberitahu soal seks, kita sebagai orangtua bisa mendadak jadi orang paling bodoh sedunia. Perlu diakui bahwa orangtua seringkali menghindari pembicaraan mengenai seks dengan anak—itulah yang tambah menjadikan hal ini semakin pelik.

Bila Anda butuh sedikit ‘pencerahan’ untuk mengangkat masalah ini dengan sang buah hati, mungkin Anda bisa intip Everything You Never Wanted Your Kids to Know about Sex (But were Afraid They’d Ask) karya Justin Richardson, M.D. dan Mark A. Schuster, M.D., PH.D. Walaupun tentunya pendekatan yang diambil dalam buku ini bukanlah pendekatan dari sisi adat ketimuran atau agama, setidaknya kita mendapatkan gambaran mengenai apa yang ada di otak anak kita tentang seks dan penjelasan seperti apa yang kira-kira bisa memuaskan rasa ingin tahu mereka tanpa harus membuat topik seks sebagai hal yang tabu.

Buku ini begitu mudah dibaca, tidak menggurui, dan disusun oleh para ahli yang tidak melulu berisi teori dan opini tetapi juga disusun dengan riset yang mendalam. Di dalamnya terdapat tip-tip untuk menjelaskan isu-isu seputar seks kepada anak seperti homoseksualitas, seks dalam internet, penyakit kelamin (STD-Sexually Transmitted Diseases), bahkan cara mengatasi apabila Anda ternyata tidak menyukai pacar si buah hati.

Senin, Juli 14, 2008

Buku bulan ini: 180 jus buah dan sayuran untuk mengatasi gangguan kesehatan, meningkatkan gairah bercinta, dan tampil lebih muda

Kita semua tahu bahwa jus buah dan sayuran sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Tapi, terkadang kita kehabisan ide untuk mengolahnya sendiri dan akhirnya memilih jalan pintas untuk membeli yang sudah siap dikonsumsi di supermarket terdekat. Nah, kalau Anda ingin membuat sendiri jus dengan khasiat dan bahan yang lain daripada yang biasanya, Anda bisa intip resepnya di buku ini. Buku karya Wied Harry Apriadji terbitan PT Gramedia Pustaka Utama ini memuat 180 jus buah dan sayuran yang diklaim dapat mengatasi gangguan kesehatan, meningkatkan gairah bercinta, dan tampil lebih muda!

Penulis buku ini adalah pelaku terapi jus sejak tahun 2000. Dari kebiasaannya minum jus buah dan sayur, keluhan gangguan kesehatan yang dideritanya berangsur-angsur teratasi, bahkan selain kesehatan tubuhnya semakin terjaga, diakuinya terapi jus buah dan sayur ini membuatnya awet muda.

Tertarik untuk mencoba? Coba saja salah satu resep di buku ini. 180 resep yang disajikan dibuat dari bahan yang mudah didapat. Penulisnya juga tak pelit melengkapi buku ini dengan trik untuk menjadikan cita rasa jus lebih nikmat. Bonus tambahan dari buku ini: foto-fotonya amat menarik hati!

Selasa, Mei 13, 2008

Buku Bulan Ini: Batik, Fabled Cloth of Java

Anda mungkin sudah mengamati bahwa saat ini batik sedang kembali 'naik daun' di kalangan anak muda Indonesia. Dengan model dan cutting busana modern, mengenakan batik jadi sesuatu yang in dan tidak melulu berkesan formal.

Di balik tren yang ada sekarang, tidak ada salahnya kita mengetahui sejarah batik yang merupakan warisan tak ternilai harganya dari para leluhur. Terlebih bagi kita yang tinggal di negeri orang, sedikitnya kita harus memiliki pengetahuan mengenai busana khas Indonesia yang sering kita kenakan ini.

Buku ini membahas sejarah batik dan bagaimana pengaruh keagamaan seperti Hindu, Buddha, dan Islam meresap ke dalam seni batik. Dikemas dengan cantik bertabur foto-foto yang indah, buku ini mampu memanjakan mata pembaca dengan menghadirkan kompleksitas batik, detil desainnya, dan juga menonjolkan kemahiran luar biasa dari para pembatik di Pulau Jawa. Bagi Anda yang memiliki minat terhadap seni Indonesia, jangan lewatkan buku karya Inger McCabe Elliot ini.

Kamis, April 10, 2008

Buku Bulan Ini: Diplomatic Baggage-The Adventures of a Trailing Spouse

Brigid Keenan adalah seorang wartawan mode di London yang sedang berada di puncak karier. Tetapi cintanya pada seorang diplomat membuatnya rela meninggalkan semua itu untuk mengikuti sang pujaan hati ke mana pun ia ditempatkan. Tiga puluh tahun kemudian, Brigid Keenan mendapati dirinya mempertanyakan apakah keputusannya yang diambilnya itu merupakan keputusan yang tepat...

Buku ini merupakan catatan nyata Brigid Keenan mengenai kehidupannya sebagai trailing spouse—istri yang mengikuti suami berpindah-pindah tempat tugas. Mulai dari peliknya tata protokol diplomatik, rasa rindu kampung halaman, frustrasinya yang memuncak karena tidak bisa mengejar karier lagi, sulitnya mengatur anak abg yang harus dibawa berpindah-pindah, semua diramu dengan pas dan menghasilkan kisah yang mengalir dengan lancar, mudah dibaca, mengena, dan luar biasa lucu!

Rabu, Maret 12, 2008

Buku Bulan Ini: Shop in Shenzhen - An Insider's Guide

Tinggal di Hong Kong tidaklah lengkap rasanya kalau belum pernah belanja atau sekadar cuci mata di Shenzhen. Buat Anda yang belum pernah belanja di Shenzhen dan kebetulan harus pergi sendirian saja, buku ini bisa jadi penyelamat Anda.

Di buku ini Ellen McNally memberi informasi mengenai:
  • Transportasi dan waktu yang tepat untuk pergi ke Shenzhen.
  • Petunjuk mengenai keimigrasian, visa, dan cara menyeberangi perbatasan Hong Kong-Shenzhen.
  • Seluk-beluk Lowu Commercial City yang merupakan pusat perbelanjaan utama di Shenzhen; mulai dari cara mencari penjahit yang baik, tempat pijat dan manikur-pedikur yang oke, restoran, tempat mencari tas, sepatu, peralatan rumah, barang antik, aksesori, dan lain-lain.
  • Berbelanja di sepanjang jalur Metro (kereta cepat Shenzhen); mengunjungi pusat perbelanjaan tua, department store, dan mal terbaru.
  • Theme park, restoran, dan spa di Shenzhen.
  • Petunjuk arah dalam bahasa Mandarin.

Pergi ke Shenzhen sendirian? Siapa takut!

Senin, Februari 11, 2008

Buku bulan ini: Emily Post's Entertaining

Bagi mereka yang tidak biasa, menjamu tamu pasti bikin kepala pusing tujuh keliling. Bukan hanya urusan mengatur menu dan menata ruangan, mengatur sendok, garpu, gelas, dan piring pun sudah jadi masalah besar. Belum lagi memikirkan cara membawa diri agar para tamu merasa nyaman saat dijamu. Wah, belum apa-apa sudah stres duluan.

Kalau Anda seperti itu, Emily Post’s Entertaining ini bisa jadi buku pegangan. Buku ini adalah petunjuk praktis untuk menjamu tamu dengan mudah. Di dalamnya terdapat teori dasar dan tips-tips menjamu tamu dalam segala acara. Peggy Post, pakar etiket ternama di Amerika Serikat yang menjadi penulis buku ini, mampu menumbuhkan rasa percaya diri para pembaca agar bisa menjadi tuan rumah yang baik dan mengingatkan kita semua bahwa suksesnya sebuah acara perjamuan dicapai bila semua yang hadir merasa senang dan pulang dengan membawa kesan yang baik.

Mulai dari pesta ulangtahun anak, minum kopi bersama teman-teman dekat, menjamu atasan suami, sampai makan malam resmi, Emily Post’s Entertaining menunjukkan cara untuk menjadi tuan rumah yang sempurna. Dengan bantuan buku ini dan tentu saja dengan banyak berlatih, setiap acara perjamuan bukan sesuatu yang harus ditakuti lagi.